Langsung ke konten utama

Sejarah Pembentukan PPKI, Anggota, dan Sidangnya

PPKI adalah singkatan dari Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang jika dalam bahasa Jepang disebut dengan dokuritsu junbi inkai . PPKI ditugaskan untuk melanjutkan kegiatan BPUPKI setelah BPUPKI dibubarkan oleh pasukan Jepang pada tanggal 7 Agustus 1945. PPKI awalnya memiliki 21 anggota, namun akhirnya PPKI menambah 6 anggota lagi tanpa diketahui oleh pihak Jepang. PPKI diresmikan oleh Jenderal Terauchi pada tanggal 9 Agustus 1945 di Kota Ho Chi Minh, Vietnam. Peresmian ini dihadiri oleh Ir. Soekarno, Dr. Mohammad Hatta dan Radjiman Wedyodiningrat. PPKI didirikan untuk mendapatkan simpati dari kelompok-kelompok dan orang-orang Indonesia yang ingin membantu Jepang dalam Perang Pasifik 1943. Saat itu, Jepang berjanji akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia melalui Perjanjian Kyoto. Sejarang Pembentukan PPKI Keadaan Jepang pada akhir Perang Dunia II berada di bawah tekanan yang meningkat dari Sekutu. Menyadari posisi Jepang yang melemah dan ketidakpastian nasib Indonesia, para

Tan Malaka, Bapak Republik yang terlupakan

Sudah berpuluh tahun sejak Indonesia merdeka dari tahun 1945. Namun, jarang kita tahu, Jauh sebelum merdeka ada seorang misterius yang menggagaskan ide negara Indonesia untuk pertama kali. Namanya jarang terdengar, tapi dialah pejuang revolusi yang melampaui zaman.

Dia adalah bapak Republik Indonesia. Dialah Tan Malaka. 

Masa muda Tan Malaka

Tan Malaka memiliki nama asli Sutan Ibrahim. Ia memiliki gelar Datoek Tan Malaka yang ia dapatkan dari upacara adat, yang menunjukkan bahwa ia adalah orang yang istimewa.

Tan Malaka, Bapak Republik yang terlupakan  
 

Ayah dari Tan Malaka memiliki nama Rasad Caniago dan ibunya bernama Sinah Simabur.

Masa kecil Tan Malaka tidak jauh berbeda dengan anak pribumi pada umumnya di saat itu. Ia mengenyam pendidikan pendidikan di sekolah rendah.

Tetapi dari kecil Tan Malaka sudah menunjukkan bahwa dia adalah seorang anak yang cerdas. Ia kerap kali membuat warga kampung terkesima dengan pemikirannya, termasuk GH Horensma, gurunya.

GH Horensma merekomendasikan Tan Malaka untuk meneruskan studinya ke Belanda dengan mengumpulkan sumbangan warga kampung setiap bulan.

Tan Malaka kemudian melanjutkan studinya di Sekolah Pendidikan Guru Pemerintah (Rijksk Weekschool) yang berada di Belanda pada usinya yang ke 17 tahun. Ia menganggap sumbangan dari warga kampung sebagai hutan dan harus dilunasi di kemudian hari nanti, meskipun Horensma lah yang sudah melunasi hutang-hutang Tan Malaka.

Tan Malaka Ketika Kuliah di Belanda

Ada satu buku yang dibawa oleh Tan Malaka sebelum keberangkatannya yang menjadi awal baginya menjadi sangat tertarik pada revolusi. Buku itu berjudul De Fransche Revolutie.