Langsung ke konten utama

Profil dan Biodata Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah

Ganjar Pranowo adalah seorang politisi Indonesia yang lahir pada tanggal 1 Juni 1968 di Surakarta, Jawa Tengah. Ia adalah anggota Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Ganjar Pranowo menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah sejak tahun 2013 hingga saat ini. Sebelum menjadi Gubernur, Ganjar Pranowo pernah menjabat sebagai Bupati Klaten pada tahun 2005 hingga 2010. Ia kemudian terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia pada periode 2009-2014. Sebagai Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dikenal karena kebijakan dan program-programnya yang berfokus pada pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Ia juga aktif dalam menggunakan media sosial, terutama akun Twitter pribadinya, untuk berkomunikasi langsung dengan masyarakat dan merespons isu-isu terkini. Selama masa jabatannya, Ganjar Pranowo telah menerima beberapa penghargaan, antara lain penghargaan sebagai Gubernur Peduli Anak 2017 dari Kementerian Pemberdayaan Peremp

Tan Malaka, Bapak Republik yang terlupakan

Sudah berpuluh tahun sejak Indonesia merdeka dari tahun 1945. Namun, jarang kita tahu, Jauh sebelum merdeka ada seorang misterius yang menggagaskan ide negara Indonesia untuk pertama kali. Namanya jarang terdengar, tapi dialah pejuang revolusi yang melampaui zaman.

Dia adalah bapak Republik Indonesia. Dialah Tan Malaka. 

Masa muda Tan Malaka

Tan Malaka memiliki nama asli Sutan Ibrahim. Ia memiliki gelar Datoek Tan Malaka yang ia dapatkan dari upacara adat, yang menunjukkan bahwa ia adalah orang yang istimewa.

Tan Malaka, Bapak Republik yang terlupakan  
 

Ayah dari Tan Malaka memiliki nama Rasad Caniago dan ibunya bernama Sinah Simabur.

Masa kecil Tan Malaka tidak jauh berbeda dengan anak pribumi pada umumnya di saat itu. Ia mengenyam pendidikan pendidikan di sekolah rendah.

Tetapi dari kecil Tan Malaka sudah menunjukkan bahwa dia adalah seorang anak yang cerdas. Ia kerap kali membuat warga kampung terkesima dengan pemikirannya, termasuk GH Horensma, gurunya.

GH Horensma merekomendasikan Tan Malaka untuk meneruskan studinya ke Belanda dengan mengumpulkan sumbangan warga kampung setiap bulan.

Tan Malaka kemudian melanjutkan studinya di Sekolah Pendidikan Guru Pemerintah (Rijksk Weekschool) yang berada di Belanda pada usinya yang ke 17 tahun. Ia menganggap sumbangan dari warga kampung sebagai hutan dan harus dilunasi di kemudian hari nanti, meskipun Horensma lah yang sudah melunasi hutang-hutang Tan Malaka.

Tan Malaka Ketika Kuliah di Belanda

Ada satu buku yang dibawa oleh Tan Malaka sebelum keberangkatannya yang menjadi awal baginya menjadi sangat tertarik pada revolusi. Buku itu berjudul De Fransche Revolutie.